Nicolaus Copernicus Bapak Astronomi Modern di Google Hari Ini


Bagi sobat Brilliantaplex yang menyempatkan diri melihat doodle google hari ini, maka sobat tentu akan menjumpai planet-planet yang berputar mengelilingi bumi tapi dengan gaya yang klasik. Apa sih maksud google menampilkan animasi itu di laman search engine mereka? Ternyata hari ini, 19 Februari 2013 adalah Hari Ulang Tahun Nicolaus Copernicus ke-540 . Penasaran dengan sejarah Copernicus? Silahkan sobat baca artikel di bawah yang Brilliana kutip dari laman sidomi[dot]com .

Sudah sangat lama kebanyakan orang di dunia meyakini bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Sebagai pusat, bumi diam tak bergerak, sedangkan benda-benda langit mengelilinginya. Sebagai contoh yang menipu mata, adalah pergerakan matahari yang terbit dari timur dan tenggelam di barat. Beruntunglah ada sosok Nicolaus Copernicus yang mampu mendobrak tradisi tersebut. Copernicus, yang disebut-sebut sebagai bapak Astronomi Modern, menjadi pengembang teori heliosentris (matahari sebagai pusat) dalam bentuk yang detail.

Ya, sejatinya, teori bahwa bumi mengelilingi matahari, tidak murni berasal dari Copernicus, pria yang lahir di Torun, 19 Februari 1473. Melainkan sudah muncul jauh-jauh hari. Semisal, gagasan Aristarkhus dari Samos pada abad 3 SM. Phythagoras, juga memiliki ide serupa. Para pengikutnya menyebarluaskan ajaran bahwa bumi dan matahari bergerak mengelilingi sebuah ‘api pusat’. Namun, dalam perjalanan waktu, ide bahwa bumi adalah pusat yang dicetuskan Aristoteles, lebih terkenal dan lebih mudah dipahami masyarakat dari zaman ke zaman.

Tidak demikian dengan Copernicus. Sejak sekitar tahun 1514, ketika ia berusia 41 tahun, pria ini menulis manuskrip yang diberi titel Nicolai Copernici de hypothesibus motuum coelestium a se constitutis commentariolus (atau lebih umum dikenal sebagai Commentariolus). Teori Copernicus kala itu masih ‘mentah’, tidak didukung argumen yang memadai, tanpa ada perhitungan matematis, tapi sudah berpijak pada pemikiran tentang pergerakan bumi. Manuskrip sejumlah 40 halaman ini hanya diedarkan kepada kalangan terbatas, rekan-rekan Copernicus. Ada kemungkinan ia menghindari perseteruan, entah dengan kalangan religius atau dengan kalangan filsuf dan ahli astronomi.

Setelah perjuangan panjang, Copernicus bersua dengan Georg Jiachim Rheticus, seorang ahli matematika yang kemudian menjadi muridnya. Rheticus menyusun ringkasan teori sang guru dalam buku Narratio prima, kemudian menerbitkannya. Melihat karya tersebut ternyata diminati banyak orang, dan atas desakan Rheticus, akhirnya Copernicus berani untuk menerbitkan karyanya De revolutionibus, yang merupakan karya final dari karyanya terdahulu, Commentariolus.

Judul karya tersebut, yang secara lengkap berbunyi De revolutionibus orbium coelestium (tentang Perputaran Bola-Bola Langit), tidak berasal dari sang pengarang sendiri. Melainkan dari Andreas Osiander, seorang teolog yang diberi hak untuk menjadi supervisor buku tersebut oleh Rheticus.
Di sinilah Osiander memberi peranan penting. Dengan frasa ‘bola-bola langit’ di judul, terkesan karya ini dipengaruhi gagasan Aristoteles, bukan sebaliknya. Dan Osiander juga menulis kata pengantar unik, yang menyebutkan isi buku ini belum tentu benar. Osiander sendiri tidak mencantumkan nama atau tanda tangan pada kata pengantar tersebut. De revolutionibus diterbitkan pada 1543, tahun meninggalnya Copernicus.
Buku Copernicus yang berisi 7 gagasan pokok ini, awalnya menerima respons positif berkat trik Osiander. Namun, pada akhirnya, karya penting ini mengundang kontroversi. Pada tahun 1616 Gereja Katolik mencantumkan De revolutionibus sebagai buku terlarang. Dan, butuh waktu lebih dari 200 tahun untuk gereja mencabut daftar tersebut.

Disebutkan bahwa ada kekhawatiran dari pihak gereja, jika buku ini disebarluaskan, akan muncul rasa tidak hormat kepada institusi tersebut. Karena, gereja sendiri mendukung teori bumi sebagai pusat alam semesta. Padahal, ide bahwa bumi merupakan pusat segalanya, tidak berasal langsung dari Alkitab. Hanya, merupakan penafsiran harfiah atas ayat-ayat Tuhan oleh kalangan gereja, yang kemudian dijadikan doktrin.
Copernicus sendiri, meninggal dengan tenang, jauh sebelum kontroversi bukunya. Copernicus yang sempat koma karena stroke, dikabarkan sadar ketika diberi tahu bukunya sudah terbit, dan menjalani hari-hari terakhir hidup dengan menggenggam karya yang mengubah pandangan dunia tersebut.

#Brill

Google Membeli Motorola Mobility Produsen Ponsel seharga 12 5 Miliar USD


Wah benar-benar berita hot kali ini, yang menunjukkan Google memang jenius dan cepat mengambil tindakan dalam memperluas serta mempertahankan pasar ponsel dan gadget masa depan dengan membeli Motorola Mobility yang merupakan perusahaan Motorola divisi  ponsel dan smartphone.
Selama ini Google hanya membuat dan mendistribusikan OS Android saja tapi memang hal ini memiliki problem di mana banyak fragmentasi terjadi karena masing-masing vendor menggunakan spesifikasi yang sungguh bervariasi serta menambahkan layer UI atau modifikasi dari OS Android standar.
Akhirnya Google barusan saja mengumumkan bahwa mereka membeli saham Motorola seharga 40 USD dengan total 12.5 miliar USD atau 100 triliunan rupiah untuk porsi 63% saham. Transaksi ini telah disetujui oleh dewan direksi kedua perusahaan.
Memang selama ini Motorola cukup memperlihatkan komitmennya dalam platform Android yang membuat Google menjadi tertarik membelinya. Dan Motorola merupakan salah satu anggota pendiri Open Handset Alliance yang menjadikan Android sebuah platform yang terbuka dan lengkap untuk perangkat mobile.

Cara Menjalankan Google Glass di ponsel atau tablet Android Anda

Cara Menjalankan Google Glass di ponsel atau tablet Android Anda, aplikasi android

Telah ada banyak berita heboh di Internet tentang Kaca Mata Google atau Google Glass. Beberapa orang telah positif menilai Google Glass, beberapa menilainya negatif (terutama di sekitar isu-isu privasi). Namun masalah terbesar dari semua itu adalah bahwa orang-orang biasa, seperti saya dan Anda, tidak dapat mencoba Google Glass untuk melihat apa yang diributkan. Ini dikarenakan hanya ada sejumlah perangkat terbatas yang diluncurkn. Disamping itu, harga gadget ini pun selangit yaitu sekitar $ 1.500 yang dibutuhkan untuk membelinya, dan fakta bahwa program ini hanya undangan. Apa yang harus dilakukan jika Anda ingin merasakan sensasi Google Glass?

Jawabannya tentu adalah untuk menjalankan Google Glass di ponsel atau tablet Android Anda. Anda mungkin tidak harus mencobanya dengan mengikat ponsel di kepala Anda dengan karet gelang dan selotip. Atau mungkin mengikat ponsel pada frame kaca mata Anda.....hehe, tapi Anda dapat bermain dengan antarmuka dan menguji hal-hal apa yang dapat dilakukan oleh Google Glass.

Cara Menjalankan Google Glass di ponsel atau tablet Android Anda, aplikasi android, APK

Hal ini dapat dilakukan berkat upaya Zhuowei Zhang yang memungkinkan kita untuk menginstal  bagian yang berbeda dari perangkat lunak Google Glass pada perangkat Android melalui File apk. Sebuah apk adalah format file aplikasi standar, mirip dengan exe pada Windows. Untuk menginstal file APK, Anda perlu mensetting perangkat agar dapat menginstal apk dari sumber lain selain Goolgle Play. Untuk melakukan ini, buka tab Setting(Pengaturan)-> Keamanan dan pastikan bahwa "Sumber tidak diketahui" dicentang. Hal ini akan memungkinkan instalasi aplikasi dari sumber selain Play Store.

Selanjutnya menuju ke https://github.com/zhuowei/Xenologer untuk men-download dan menginstal glasshome-modded.apk. Ini akan memberi Anda layar Glass home screen awal. Setelah Anda memulai aplikasi (yang disebut "Glass Home"), Anda akan disajikan dengan "standar" Glass home screen dan jam seperti yang dilihat oleh pengguna Google Glass sebenarnya, yang diproyeksikan ke mata mereka. Lalu, ucapkan "OK Glass" untuk mengakses menu. Hanya berbicara ke ponsel atau tablet Anda untuk mencoba hal-hal lain.

Cara Menjalankan Google Glass di ponsel atau tablet Android Anda, apk, aplikasi android

Hal berikutnya yang harus dilakukan adalah menginstal modul kamera, hangouts dan modul Maps. Anda harus mengaktifkan Glass Home app untuk berinteraksi dengan kamera, mulai hangouts dan akses Google Maps.

Meskipun aplikasi ini tidak menjadikan pengalaman menggunakan Google Glass secara penuh, namun akan memberi Anda pengalaman merasakan apa yang dapat dilakukan oleh Google Glass. Hal ini juga membuka kemungkinan lebih untuk Google agar bisa menambah antarmuka Android secara normal.